VISI
Sebagai wadah aktualisasi anak muda untuk berdampak menciptakan kehidupan masyarakat inklusi
MISI
- Mengedukasi masyarakat tentang kesehatan mental dan ODMK
- Membangun interaksi sosial dengan ODMK
- Memberdayakan ODMK & Masyarakat melalui program pendampingan
- Melakukan Riset & Pengembangan program
Sejarah Kami
Perjalanan membangun interaksi sosial dengan ODMK dimulai sejak 10 Oktober 2012. Dalam menyalurkan kepedulian terhadap ODMK, Tria bersama para mahasiswa di Kota Surakarta bernaung dalam satu atap bernama Griya Schizofren.
Griya berarti rumah, Sc-Social berarti komunitas sosial, Hi-Humanity memiliki arti bahwa komunitas dibangun karena rasa kemanusiaan, dan Fren-Friendly bermakna membangun prinsip persahabatan dengan ODMK. Griya Schizofren secara luas memiliki makna sebagai tempat anak muda menyalurkan jiwa sosialnya karena panggilan kemanusiaan dengan memegang prinsip kesetaraan (persahabatan) untuk Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK).
Griya Schizofren bukanlah tempat untuk menyembuhkan ODMK. Komunitas yang sudah ada sejak 10 tahun lalu ini berusaha menjadi teman saat para ODMK sedang melewati fase-fasenya. Karena mereka yakin kalau ODMK bisa stabil dan beraktivitas normal di masyarakat asal rutin minum obat dan tidak ada sesuatu yang memicu jiwa mereka kembali terguncang.
Tujuan griya ini mulia, yaitu mengampanyekan lebih banyak anak muda agar mereka lebih sadar pada kesehatannya dan peduli pula dengan orang lain. Pada 2012, Griya Schizofren hanya beranggotakan 3 orang saja yaitu para pendirinya, Tria, Febri, dan Wulan. Lalu tahun 2013 Tria dkk. memutuskan untuk menjadikan Griya Schizofren sebagai sebuah komunitas yang tersistem. Mereka pun mulai membuka relawan muda yang tersebar di Surakarta. Setelah lulus kuliah, Febri dan Wulan harus kembali ke Jakarta. Tria memutuskan untuk tetap melanjutkan gerakan sosial ini bersama para volunteer.
Para relawan yang mayoritas adalah mahasiswa datang ke Griya PMI Peduli Surakarta untuk mengisi ruang kesendirian para ODMK dengan mengajak mereka bercerita, bernyanyi, atau sekadar mendengarkan cerita yang kadang berhasil mencuri kepekaan nurani pendengarnya. Setiap volunteer hadir seminggu satu kali dan tidak lebih dari dua jam. Waktu tersebut dapat membangun kesadaran para relawan bahwa ODMK tetaplah manusia yang tidak perlu ditakuti, diolok-olok, apalagi dijauhi.
Griya Schizofren juga selalu membuka pintu untuk siapa pun yang ingin membantu memberikan kehidupan layak bagi para ODMK secara materi. Misalnya, pada Desember 2017 dan Juni 2018 komunitas ini mengadakan “Rice Festival”. Sebuah kegiatan festival kebaikan untuk berbagi secangkir beras bagi ODMK di Griya PMI Peduli. Kegiatan tersebut dilatar belakangi tingginya kebutuhan beras di Griya PMI yaitu sekitar 1,5 ton per bulan. Dengan hadirnya Rice Festival, diharapkan dapat meringankan beban PMI.
Pada tahun 2020, ada sekitar 130 ODMK yang dirawat di Griya PMI Peduli Surakarta. Latar belakang mereka mengalami masalah kejiwaan beragam. Ada seorang ibu yang mengaku mengalami gangguan jiwa karena ditinggal suami, ada pula yang terguncang jiwanya karena ditinggal sang kekasih. Peristiwa traumatis sering kali menjadi beban berat psikologis. Masalah yang sulit diselesaikan, adanya konflik, keinginan yang tidak tercapai, kemarahan terpendam, kesedihan mendalam, kehilangan, hingga kekecewaan menjadi faktor penyebab yang banyak ditemui pada ODMK.
Kegiatan pendampingan yang dilakukan Griya Schizofren antara lain bernyanyi, bercerita, dan menggambar, para ODMK juga melaksanakan olahraga pada jam-jam tertentu. Kegiatan keagamaan seperti mengaji dan salat Idulfitri berjamaah juga dilakukan di Griya PMI Peduli. Saat Iduladha, Griya PMI Peduli bersama Griya Schizofren melaksanakan kurban dan pembagian daging dibantu oleh ODMK. Kurban menjadi agenda untuk meningkatkan nutrisi dan protein hewani ratusan ODMK di Griya PMI Peduli.
Pada Desember 2017, Griya Schizofren bersama Cocopa Bucket melaksanakan workshop membuat gantungan kunci dan merajut bersama. Ini adalah salah satu bentuk ikhtiar agar para ODMK dapat kembali berkarya.
Saat peringatan Hari Kartini tahun 2018, Griya Schizofren, FIM Solo Raya, Doing Project, dan Aktivis Peneleh melaksanakan kegiatan Kartini Celebration Days bersama Griya PMI Peduli Surakarta. Para ODMK diajak untuk mengikuti beberapa lomba seperti balap sarung, makan kerupuk, dan lomba bakiak. Mereka nampak begitu bahagia. Sama sekali tidak terlihat menakutkan atau membahayakan.
Pada perayaan hari-hari besar, Griya Schizofren selalu mengajak ODMK untuk turut serta meramaikan. Contohnya, saat perayaan Hari Kemerdekaan mereka mengadakan lomba agustusan seperti lomba-lomba di kampung pada umumnya. Lalu, saat World Mental Health Day mereka melakukan pawai.
let’s collaborate together!
